BUDHY MUNAWAR RACHMAN PDF

Mufti Lestari marked it as to-read May 07, Shaivite Hindus, Buddhists, and Confucian-Taoists seem to venerate the synthesis of the first and second persons in a third person or appearance, ie. This series promotes new directions in scholarship in the study of Islamic thinking aiming to take the field beyond the usual historical-philological concentration found in Islamic studies or the area studies approach dominating in the social sciences. Milanasti marked it as to-read May 06, Ini pertama kalinya saya baca tulisan Cak Nur meskipun telah sering mendengar namanya. Noviati Wani marked it as to-read May 05, In a constructive worldview: Just a moment while we sign you in to your Goodreads account. Kaum Muda Tradisi Merobek Tradisi. View my complete profile.

Author:Meztizuru Dojora
Country:South Africa
Language:English (Spanish)
Genre:Life
Published (Last):26 August 2010
Pages:207
PDF File Size:14.92 Mb
ePub File Size:1.38 Mb
ISBN:388-2-76734-731-4
Downloads:6113
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zulkiran



Sebuah cakrawala pemikiran yang fondasinya dibangun oleh para tokoh Muslim di era Nurcholish Madjid. Sebagaimana gurunya di Paramadina, Nurcholish Madjid, Budhy juga dikenal sebagai penyeru pluralisme dan kebebasan beragama.

Berikut petikan wawancara dengan Budhy Munawar. Sampai di mana pergulatan pemikiran umat Islam di Indonesia terkait isu modernisasi? Kontribusi besar tokoh-tokoh Muslim seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Syafii Maarif, dan Djohan Efendi adalah membangun fondasi pemahaman sehingga umat Islam di Indonesia gampang menerima ide baru.

Misalnya, ide tentang demokrasi dengan segala turunannya: penerapan HAM, kebebasan beragama, juga hal-hal yang lebih konkret seperti pemerintahan yang baik. Dan, menurut saya, mereka berhasil. Mereka telah memberi pijakan sangat kuat bahwa tidak ada pertentangan antara Islam dan demokrasi. Sejak saya bekerja di Asia Foundation, saya mendapat kesempatan banyak bisa bekerja dengan komunitas di tingkat akar rumput, misalnya bekerja dengan pesantren, sekolah Islam, juga dengan lembaga peradilan agama dan organisasi massa Islam, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Dari persinggungan itu, saya mengerti bahwa umat Islam di Indonesia sangat siap untuk mengimplementasikan demokrasi. Tetapi, masyarakat sebenarnya masih membutuhkan tuntunan untuk menggali akar mereka sendiri di tingkat lokal. Bisa memberi contohnya? Contoh klasik adalah pembentukan women crisis centre WCC , yaitu tempat bagi perempuan untuk konseling penyembuhan dan berlindung bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Kebutuhan mengenai crisis center itu sudah ada sejak an. Tetapi, pembangunannya mendapat tentangan. Ketika kita mulai menyadari pentingnya peran lembaga seperti NU dan Muhammadiyah, serta lembaga turunannya seperti Fatayat dan Muslimat, kita kemudian mendorong mereka untuk tampil ke depan membawa isu WCC ini. Kini penyebaran WCC sudah meluas dan lebih mudah diterima. WCC pengalaman pertama tahun an, yang menjadikan kita sekarang sangat sadar mengenai pentingnya ormas Islam.

Untuk mengembangkan demokrasi di Indonesia, peran ormas Islam ini pun memang masih penting. Mereka memiliki kekuatan untuk mendorong masyarakat menjadi lebih terbuka. Tentu sekarang tantangannya juga semakin berat, yaitu semakin menguatnya konservatisme, bahkan mengarah ke radikalisme, baik radikal dalam hal wacana maupun terorisme. Yang sedikit melegakan, NU dan Muhammadiyah telah menyebut diri mereka sebagai moderat. Istilah moderat dipakai untuk menunjukkan bahwa ormas Islam di Indonesia itu bukan radikal.

Oleh karena itu, mereka akan melawan segala bentuk kekerasan yang bisa muncul dari agama. Walaupun ada juga ormas Islam yang lebih kecil dengan massa yang lebih sedikit yang cenderung konservatif, bahkan cenderung radikal. Kenapa radikalisme sekarang banyak muncul? Karena dulu Orde Baru Orba serba tertutup dan melawan semua kencederungan radikalisme, baik kanan maupun kiri.

Sejak reformasi, ada keterbukaan. Saya percaya pada proses bahwa membangun masyarakat yang lebih terbuka itu penting walaupun harganya mahal. Kita membayarnya dengan perang sipil di Poso, konflik etnis di Kalimantan, juga diskriminasi terhadap kelompok agama minoritas, seperti Ahmadiyah.

Radikalisme muncul di era keterbukaan. Ini tak bisa diatasi dengan cara seperti dulu dengan menghabisi melalui kekerasan dan tekanan. Di Malaysia masih seperti itu sehingga keterbukaan masyarakat Islam dalam berwacana dan berpendapat di sana belum bebas.

Di Indonesia kita bisa memunculkan wacana apa saja, pendapat seliberal apa pun. Walaupun harus diakui tantangannnya juga ada. Namun, tidak sampai pada tahap yang membahayakan jiwa. Apa yang bisa dilakukan untuk meredam radikalisme? Yang paling penting adalah membuat masyarakat sadar bahwa terorisme itu berbahaya untuk perkembangan masyarakat sendiri. Karena radikalisme itu cenderung menghancurkan kelompok yang berbeda.

Dalam hal ini, potensi ormas Islam sangat besar karena mereka mewakili sebagian besar umat Islam di Indonesia. Apalagi mereka sudah menyatakan diri sebagai kelompok yang moderat. Lebih baik lagi jika mereka bisa lebih progresif sehingga betul-betul menjadi penyangga dalam meredam radikalisme. Apa hambatannya untuk mewujudkan kebebasan beragama di Indonesia? Dari segi legal kita sudah cukup progresif walaupun masih cukup banyak kontradiksi.

Dari segi teologi, kita masih memerlukan suatu kejernihan berpikir dan berargumen sehingga menjadi jelas bahwa hak-hak orang lain, baik sesama Muslim maupun non-Muslim, untuk beragama itu dijamin. Isu pluralisme dimulai puluhan tahun lalu, tetapi isu kebebasan beragama belum sampai pada tahap praktis. Secara normatif memang mulai dibangun, misalnya ada uraian mengenai ayat Al Quran laa iqroha fid-dien, yang artinya tak ada pemaksaan dalam beragama.

Tetapi, sekarang tantangannya lebih berat. Toleransi pasif mungkin sudah kita lakukan. Saya kira semua tokoh agama dan pemerintahan sudah melakukan, tapi toleransi aktif masih belum. Toleransi aktif maksudnya kebebasan beragama dalam implementasi nyata. Misalnya, upaya menyelesaikan masalah bersama di masyarakat dalam pendirian tempat ibadah.

Apakah Anda optimistis masyarakat Muslim Indonesia bisa menuju fase demokrasi aktif? Optimis karena secara normatif tidak ada pertentangan.

Bahkan, akar-akar demokrasi sangat kuat di Islam. Itu yang dieksplorasi oleh pemikir Islam yang demokratis. Dan, itu yang hidup di masyarakat. Kita memang sudah memilih demokrasi sebagai cara untuk mengembangkan masyarakat Indonesia.

Kita tidak memilih sistem politik yang lain. Demokrasi sudah menjadi amanah waktu kita membentuk Indonesia. Kita menuju ke sana. Saya percaya pada proses. Kita ada dalam satu jalan yang benar. Amerika maupun negara-negara Eropa juga butuh waktu lama sampai ke pilihan demokrasi itu.

Kini kita dalam tahap di mana demokrasi bisa ditumbuhkan. Sayangnya tak ada negara Muslim besar yang bisa jadi acuan. Banglades contoh yang menarik. Mereka menyebut sebagai negara sekuler walaupun memiliki jumlah penduduk Muslim sangat besar, terbesar kedua di dunia. Tapi, mereka jatuh bangun juga. Problemnya sama dengan Indonesia, korupsi dan lain-lain. Secara prosedural kita contoh yang baik, di mana demokrasi yang elementer sudah terjadi, di mana pemimpin dipilih masyarakat secara bebas.

Pemilu dan pilkada kita damai. Tentu kita belum puas karena itu masih demokrasi yang elementer. Belum sampai pada tahap demokrasi yang membawa kesejahteraan. Jika demokrasi masih membawa tetap miskin, untuk apa? Ini kita yang masih cukup jauh. Masih perlu waktu. Apa yang harus dikhawatirkan bisa menggagalkan kita menuju ke proses itu? Yang bisa menggagalkan adalah radikalisme karena hal itu bisa membatalkan semua yang telah kita lakukan, terutama sejak reformasi.

Kecenderungan mengenai radikalisme itu ada sehingga memang harus terus diwaspadai.

HP STOREVIRTUAL 4530 PDF

Membaca Nurcholis Madjid ~ Budhy Munawar Rachman

Completing a 4,page series of books on the thoughts of the late Muslim thinker Nurcholish "Cak Nur" Madjid required a lot of patience, hard work and a high degree of accuracy, for which Budhy deserves praise. Cak Nur passed away in due to illness. The series, comprising four volumes, comprehensively compiles the thoughts and opinions of Cak Nur, and was mostly transcribed from oral presentations, discussions and lectures, and scholarly papers presented at various conferences and seminars. When asked why he decided to use the word Ensiklopedi, Budhy said that Cak Nur was just like an encyclopedia.

CLINICAL ANATOMY OF THE EYE SNELL AND LEMP PDF

Ebook: Islam dan Liberalisme - Budhy Munawar Rachman

Pada abad yang lalu telah terjadi bahwa Haji Miskin dan rombongannya berkenalan dan menyerap ide-ide pembaruan dan pemurnian pemahaman Islam di Tanah Suci, kemudian membawanya ke Sumatera Barat yang kemudian berpengaruh luar biasa besarnya ke seluruh Tanah Air. Maka demikian pula sekarang, perkenalan, pengenalan, dan penyerapan pikiran-pikiran pembaruan, pemurnian, dan reorientasi pemikiran Islam di seluruh dunia—yang sangat dipermudah oleh adanya teknik pencetakan buku dan terbitan berkala, media komunikasi, dan transportasi—tentu akan, dan memang sedang dan sudah, berpengaruh kepada keadaan umat Islam Indonesia. Kita tidak mungkin mengingkari ini semua. Sementara itu, dinamika perkembangan negara kita sendiri juga sedemikian dahsyatnya, sehingga mau tidak mau juga berpengaruh pada keadaan umat Islam Indonesia. Apalagi jika diingat bahwa umat Islam merupakan bagian terbesar rakyat hampir 90 persen , dan bahwa pembangunan itu pun adalah untuk kepentingan rakyat, maka pengaruh dan dampak dinamika perkembangan nasional itu kepada umat Islam adalah identik dengan pengaruh dan dampaknya kepada rakyat Indonesia. Berkaitan dengan itu, di sini kita harus dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan tekad bangsa kita, melalui para pemimpin yang berwenang, untuk terus melaksanakan reformasi, yang pasti akan berpengaruh pada keislaman di Indonesia.

KEUZEGIDS HBO VOLTIJD 2013 PDF

Islam dan Liberalisme

Sebagai sebuah cara berdiskursus, liberalisme bukanlah hal yang asing dalam sejarah pemikiran Islam. Sudah sejak masa klasik para pemikir Muslim menghasilkan pemikiran-pemikiran yang sangat liberal dan terbuka pada perkembangan zamannya. Baik itu pemikiran yang diambil dari tradisi filsafat Yunani, sains Persia, maupun mistisisme India. Sehingga kalau dewasa ini para pemikir Muslim sekali lagi mengembangkan tradisi liberalnya yang diinspirasikan dari perkembangan pemikiran modern, fenomena ini bukanlah hal yang asing.

Related Articles