HANTU SELAKSA ANGIN PDF

Bagal Jaka Pesolek Penangkap Petir. Dilangiti biru yang suci, harapan cinta, Dikelilingi pegunungan damai mulia. Maut Bernyanyi Di Pajajaran. Apa guna menangisi waktu yang silam?

Author:Kagazshura Taukasa
Country:Montserrat
Language:English (Spanish)
Genre:Science
Published (Last):27 November 2006
Pages:425
PDF File Size:7.56 Mb
ePub File Size:17.13 Mb
ISBN:508-2-36973-682-3
Downloads:12182
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Negore



Tiap alam berhati Sendiri, emas yang bersinar-sinar, teratai api Yang kembang, machluk yang indah permai, yang gilang-gemilang Masuk ke dalam, keluar kembali sebagai bintang, Terbang bernyanyi, antara alam yang silang bersilang.

Akhirnya dalam kalbu hati dunia ia bertakhta. Kepala Iblis Nyi Gandasuri. Aku memandang suka dan duka Berganti-ganti di dalam hati, Terkenang dulu dan waktu nanti. Kamandaka Si Murid Murtad. Syiwa menari Dalam lingkungan api bernyala-nyala, yang tahadi Belum pernah aku dapat, biarpun aku sudah Memandang hampir segala yang indah, yang eslaksa punah Oleh zaman dan tangan yang ganas, saksi bercaya Dari abad kemegahan, abad yang kaya raya.

Hatiku dibelah sengsara setiap hati, Keluh kesah tidak berhenti sebentar jua. Hanya sedikit yang tahu jalan Dari negeri sampai ke sana. O, Adinda, barangkali ia teringat akan kekasihnya dan pan- tunku menghiburkan hatinya.

Karya Sastra, pengunjung. Ingin jiwa pergi ke sana tidak terkata: Waktu berhenti di tempat ini Tidak berombak, diam semata; Azas berlawan bersatu diri, Alam sunyi, kehidupan rata. Engkau berita waktu yang lalu, Masa Hindia masyhur maju, Dilayan putra bangsawan kalbu, Dijunjung tinggi penaka ratu. Rasa risau bertukar damai, Selaksw wajah hilang di mata, Kenangan-kenangan indah permai, Hanya tinggal semata-mata.

Pembalasan Ratu Laut Utara. Bencana Di Kuto Gede. Genta candi, merdu, bersahut-sahutan. Bujang Gila Tapak Sakti. O, Kekasihku, buat jiwaku bersinar-sinar! Di mana harga karangan sajak, Bukanlah dalam maksud isinya, Dalam bentuk, kata nan hanfu Dicari timbang dengan pilihnya. Di dunia bayang, tidak ada jadi penglipur Jiwa adinda duduk terpaku mengingat untung, Menangisi kita tidak diberi menjadi satu. Dapur Sastrapengunjung. Keras deras, bersorak berseru, Mendesah desing, berdengung deruh Air mengalir membawa batu, Menggulung-gulung dengan gemuruh.

Di balik gunung, jauh di sana, Terletak taman dewata raya, Tempat tumbuh kesuma wijaya, Bunga yang indah, penawar fana. Permainan gerang kehidupan dibuat Dalang, Jadi periang hati sendiri, bukan membela Mengatur semua tak tetap, bermaraja lela.

Rindu yang tak tertahan. Pabila gerang tiba waktu bersua? Api Di Puncak Merapi. Tinggal aku bermuram durja, Serasa burung kehilangan sarang. Lebih sedikit lagi orangnya, Yang dapat mencapai gerbang taman.

Dia pernah bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka, tapi lebih banyak aktif dalam lapangan pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah kebangsaan. Dia pun banyak bergerak di lapangan jurnalistik. Mengapa bunga sebelum kembang terpetik gerangan, Belum sampai memuaskan hati, menyenangkan mata, Mengapa aku baharu muda dapat petaka, Habis harapan berbagia hsntu sisi tunangan?

Mimpi buruk kehidupan sekarang, Dalam akhirat bagia datang. Akh, adinda, mengapa tuan sudah berpulang, Sebelum rumah kita pilih angih hiasi, Tempat kita berangan-angan, kita diami? Karya Sastra21, pengunjung.

Singgih Aku merasa tenaga baru Memenuhi jiwa dan tubuhku; Hatiku rindu ke padang Kuru, Tempat berjuang, perang selalu. Panji berkibar di tangan kanan, tangan kiri Memimpin kuda yang bernapaskan nyala; Begitu dewa melalui cakrawala, Menabur-naburkan perak ke bawah sini. Adakah tanda megah kembali? Sanoesi Pane dikatakan mula-mula menulis sajak-sajak yang dimuat dalam majalah-majalah di Jakarta dan Padang.

Raja Rencong Dari Utara. Hatiku kosong, tanganku hampa, Tidak ada yang sudah tercapai Aku bermimpi di dalam tapa Mengingat untung termenung lalai O Krisyna tiadakanlah kembali Meniup suling di tanah airku. Dosa Dosa Tak Berampun. Related Posts

ARQUIVO DBK PARA PDF

hantu selaksa angin

Shajar Jauh di sana bermimpi Gede-Pangrango, Seperti pulau dalam lautan awan. Jiwa menjerit disayat rawan. Ah, tiada suara yang keluar dan aku menundukkan kepala, termenung akan tanah air menge- luarkan lagu yang tidak menyambung waktu silam. Engkau menurut orang biasa. Kepala Iblis Nyi Gandasuri. Genta candi, merdu, bersahut-sahutan. Dapur Sastra, pengunjung.

AUTOBIOGRAPHY OF ASSATA SHAKUR PDF

HANTU SELAKSA ANGIN PDF

Mayat Kiriman Di Rumah Gadang. Hanya Jamna membalas seruan. Jiwanya makin lama makin lebar dan pada saat Ia berdiri dari kalbu hati dunia, segala alam Segala matahari, bulan dan bintang ada dalam dirinya: Dan jiwa merasa siksa, tetapi, lihat, ia terbang Sebagai dewa, indah permai ke dalam cuara terang, Tetapi belum ia merdeka, berkali-kali lagi. Engkau berita waktu yang lalu, Masa Hindia masyhur maju, Dilayan putra bangsawan kalbu, Dijunjung tinggi penaka ratu.

Related Articles